Gadis Kecil, Pengukir Mantra Cinta >Karya: Romi Kurniadi


Gadis Kecil, Pengukir Mantra Cinta
T
ubuhku tergores lagi. Keras, dalam, tapi aku menikmatinya. Berharap goresan itu semakin membentuk, meski hingga kini hanya berupa pita-pita yang salingbertaut, ruwet. Aku merelakan semua larik-larik kehidupanku terisi oleh gerakantangannya. Berharap semangat itu takkan pernah putus, hilang dalam seketika.Terkadang satu-satu bulir air itu jatuh mengenaiku. Menceritakan asa yang entahmengapa terasa kian hilang. Andai kau mendengarku gadis kecil.
“Inur,andai kau masih di sini. Bu guru Fatimah…” Keluhnya pada batas-batas harapan.Lalu ia akan meringkuk, mendengungkan tangis kecil yang membawanya pada alammimpi.
***

Ruangkelas dengan plang nama 3B lengang hari ini. Membuat sepenjuru sekolahkebingungan, membuat kelas sebelah menghentikan pelajaran karena mencari-carike mana sumber keributan yang biasa mereka dengar, membuat burung hantu tetapnyenyak karena waktu rehatnya tak terganggu dengan suara tenor pekik anak-anak.Semua terdiam, mendengarkan dengan takjim wanita yang sedang berbicara di mukakelas,
“Anak-anak,hari ini adalah hari terakhir ibu disini. Ibu harus pulang…” kalimat itu yangseketika menyekap kegaduhan mereka.
“Tugassudah selesai, dan ibu harus kembali. Ada banyak hal yang harus ibu kerjakan.”Ujarnya lagi. Meluapkan emosi sesak akan pahit perpisahan dengan cinta-cintabarunya di kelas berstempel degil. Membuatnya lupa banyak bahasa yang tak bisadimengerti oleh bocah-bocah dihadapannya. Tapi ia berbicara dengan hati, danmereka mendengarkan dengan hati.
Hariini ia pulang karena panggilan. Sama halnya dengan saat pertama ia berada dikampung ini, juga karena sebuah panggilan. Memang apa yang lebih baik dariseorang pegawai negri sipil kecuali taat kepada atasan, itulah awalnya iamemberanikan diri untuk mendatangi kampung ini tanpa protes. Tapi entah kenapahatinya kini sudah terpaut. Meski sudah beberapa hari lalu panggilan untukkembali itu datang, baru hari ini ia mampu mengutarakan. Ia benar-benar sudahjatuh hati dengan kelas. Utang kerjanya sudah lunas. Tidak ada lagi alasanuntuk tetap tinggal. Ia harus benar-benar pergi.
***
 Gadis itu mendengus kesal. acungan tangannyayang sekedar ingin bertanya sama sekali tak dihirau. Atau lebih tepatnya takdapat terlihat karena tertutup oleh sekian banyak tangan yang terangkat. Aneh,lucu sekali. Teman-temannya yang entah kenapa memiliki tenaga lebih banyakdarinya begitu nyaring bersiul menjawab pertanyaan yang sudah terjawab.
“Saya,Buk!” budi mengangkat tangan. “Jawabannya, dua dikali delapan sama dengan enambelas. Karena delapan ditambah dengan delapan adalah enambelas.”ujarnya yangmendapat kesempatan pertama untuk menjawab.
“Betul!”respon dari ibu guru yang sedari tadi takjim mendengarkan penjelasan si anak.Namun ternyata tidak berhenti di situ. Masih ada banyak sekali tangan yang mengacung.Sang guru menghela napas, mempersilahkan salah seorang lagi.
“enambelas!” jawab si anak setelah dipersilahkan. Tentu saja itu benar. Namunlagi-lagi tangan-tangan masih terangkat. Entah tak mendengar pembetuan tadi,atau entah apa. Ibu guru kita kembali mempersilahkan. Namun sayangnya setelahmenjawab dengan jawaban yang sama, tangan-tangan masih terus diacungkan. Adayang memberikan jawaban sama yang sudah tentu benarnya. Namun ada yang lebihajaib memberikan jawaban berbeda yang sudah tentu salahnya. Sang guru hanyamenghela napas panjang. Sama panjangnya dengan helaan napas gadis kecil yangjuga sedari tadi mengangkat tangannya di pojok kelas. Tapi lama kelamaantangannya turun. Pegal.
Iatak tahu pasti sejak kapan teman-temannya mulai meributkan pertanyaan yangdilontarkan. Biasanya jika ada pertanyaan, meskipun sama ributnya tapi yangmereka ributkan adalah hal-hal lain. Siswa laki-laki meributkan tentangjagoannya si Messi yang tadi malam mencetak gol di alun-alun desa- maksudnyamereka menonton pertandingan bola di alun-alun desa. Sedang yang perempuan asikbercerita tentang boneka baru, sepatu baru, dan gosip hangat seputar Ipah yangmenumpuk hutang uang kas. Tuju ratus perak. Pasalnya uang itu dipinjam untukmembeli gorengan di kantin memenuhi permintaan perutnya yang kelaparan. Semuabenar-benar berisik. Hanya beberapa hari belakangan ini teman-temannya berhentimengobrol bola dan menggosipkan si Ipah, semua sibuk menjawab pertanyaan.
Semuaini berawal ketika seorang guru baru datang ke sekolah mereka. Dari yang iatangkap, sang guru adalah guru dari sekolah kabupaten. Ah, benar-benar malangguru itu mengajar di sekolah ini. Murid bandel, peribut ulung, dan tentunyakampung. Begitu pikir si gadis kecil. Tapi entah apa sang guru membuatmanufer-manufer pengajaran, mulai dari memberi hadiah dua butir permen karet,atau paling besar adalah gorengan pak Abas yang terkenal dahsyat di sekolah. Iasenang karena sang guru membuat kelasnya terbebas dari wali kelas yang superkiller. Tapi ia sedih karena ia juga masih belum mendaptkan apa yang iainginkan.
Lagi-lagigadis itu hanya bisa menatapi buku catatannya dengan putus asa. Merenungpanjang tanpa ada penyelesaian. Berharap nasib malangnya segera moksa ke langitditingkah berisik kelas yang membuat sakit telinga.
***
Malamini ibu guru baru kita bisa tersenyum lega. Bayangan mengerikan bocah-bocahmurid barunya itu kian terkikis. Kengerian saat pertama kali dia datang ke sekolahitu karena sebuah tugas. Memang hanya dua bulan program ini berjalan, tapi demimelihat polah tingkah bocah di dalam kelas seperti robot berbatrai gandamembuat kepalanya berdenyut-denyut. Beruntung ibu guru kita tak lekas menyerah.Hingga akhirnya malam ke tujuh inilah ia baru bisa lekas memejamkan matanyayang sudah penat.
Celahmengatasi anak-anak itu bermula saat tiga hari lalu ia mengajar bahasa inggris.Siang itu pelajarannya adalah berhitung dalam bahasa inggris. Oiy, bukan mainributnya kelas itu. Tak ada satupun yang menggubris ketika ia berujar ‘one!’dan berharap anak-anak mengikutinya. Berkali ia mengucap angka pertama itu,tapi masih sama. Nihil. Tal ada yang menggubris.
Otaknyaberpikir keras. Beberapa saat lalu timbul ide cerdasnya.
“Heyanak-anak, itu ada nyamuk banyak sekali di atas kalian. Ayo kita tepuk sambilberhitun!!!” ucapnya lantang. Anak-anak itu segera melihat ke atas. Percayabenar dengan ucapan guru baru kita. “One!” semua anak berlonjak menepuk sambilberteriak “one!”. Lantang sekali. ibu guru kita sedikit pekak telinganya. Tapiia melanjutkan. “Two!”
Makahari itu sukses besar ia mengendalikan seisi kelas. Setelah mengahabiskantenaga dari robot berbatrai ganda itu maka kini ia menguasai kelas. Robot-robotnakal yang mulai kehabisan tenaga memilih diam mendengarkan penjelasanperaturan kelas dari ibu guru kita. Tentang tidak boleh makan di kelas, tidakboleh terlambat, bahkan sampai bonus-bonus yang akan diberikan jika merekaaktif dalam pembelajaran. Semua mengangguk mengerti. Itulah awal kesuksesan ibuguru.
Malamini ia dapat tidur dengan tenang setelah menyelesaikan perangkat pembelajaranyang dibuat untuk dikirim ke kabupaten, begitu juga dengan ide yang esok hariakan ia laksanakan. Ya, ide baru. Ia membuat penemuan baru bahwa kelasnya bukanlahsi pencatat ulung. Bahkan ketika komando mencatat itu baru saja ia lantunkan,maka sejurus kemudian mulai berdengung seisi kelas. Tak ada yang mencatatketika bibirnya mulai mendikte. Jika pun ada hanyalah beberapa anak dengan mukaserius meskipun ia tak tahu pasti apakah anak-anak itu sedang serius mencatat.
Metodebarunya adalah menyampaikan materi dengan gambar-gambar, permainan seru, danjuga mencatat dengan kuantitas yang sebisa mungkin diminimkan. Tak ada periksacatatan, tak ada lagi. Karena memang hari-hari mereka sebisa mungkin dijauhkandari kegiatan. Toh kelas tiga bukan lagi waktu untuk belajar menulis, begitupikir ibu guru kita.  Ibu guru kita yakinbenar program pertukarannya akan membuahkan hasil yang bagus dan ia akan segerapulang. Menjauh dari kampung aneh terbelakang ini, menjauh dari kelas yangmenyesakkan kepalanya. Ia benar-benar ingin pulang.
***
Duabulan belajar bersama guru baru. Tak terasa waktu semakin mamapras kerasinginnya. Harapan-harapan si gadis kecil kian pupus, kian musnah. Tak jugadirespon tangannya yang menunjuk langit-langit kelas. Tertutupi tangan-tanganlain. Guru baru kita sibuk mengurusi tangan-tangan liar, sibuk menenangkankelas, hingga melupakan dirinya. Gadis kecil tahu benar sebentar lagi ibu gurukita akan pulang, itu yang membuatnya semakin lemah.
Bukanhanya karena inginnya yang tak juga kunjung tersampaikan, tapi banyak hal indahyang akan segera hilang. Hari-hari indah berebut menjawab untuk sebutir permenkaret. Juga hari ini. Guru baru kita mengajak anak-anak untuk membuat taman didepan kelas. Siswa laki-laki kebagian membawa cangkul- mereka cukup besar meskimasih kelas tiga. Sedang yang perempuan membawa sabit dan bunga-bunga yang akanmereka tanam.
Semuabegitu bersemangat mengayunkan alat-alat menghujam tanah, menerbangkantanah-tanah liat ke semua penjuru. Membuat anak perempuan berteriak-teriaktakut kotor, sedang yang laki-laki malah semakin senang menggoda. Ibu guru kitajuga kebagian jatah ketika salah satu orang siswa dengan malu-malu menggoda ibuguru kita dengan segaris lumpur dipipi. Awalnya terdiam kaku, senyum malubercampur takut. Tapi karena ibu guru kita malah tergelak melihat polah tingkahanak, jadilah ajang berlumpur ria itu semakin menjadi. Bahkan ibu guru kitaikut berkejar-kejaran mengenang masa kanak-kanak. Hari ini semuanya bahagia,semuanya tertawa, termasuk gadis kecil kita.
Hanyasenyum itu harus kandas ketika ia kembali membuka buku catatannya sepulangsekolah. Masih kosong mlompong, kecuali goresan-goresan ruwet yang tercetakdibeberapa lembar kertas. Matanya pedih, berair. Ia tahu benar harapannya takakan pernah terwujud, berharap ibu guru kita bisa membantunya memenuhi bukuitu. Apakah ia suka mencatat?
Makademi memenuhi kesadarannya yang mulai pulih tentang kemungkinan itu, iabersikeras untuk mencoba memenuhi buku catatannya sendiri. Menulis entah apa.Cukuplah wajah riang ibu guru kita tadi pagi sebagai suplemen penambah tenagajari-jari mungilnya. Si gadis kecil mulai mengukir lembaran. Satu dua keringatbercucuran. Bibirnya yang tadi merekah mulai beringsut menciut. Tetapmenggoreskan pena. Kian menciut rekahan bibirnya. Kian pedas matanya. Hingga disuatu titik…
“Inur,andai kau masih di sini. Bu guru Fatimah…” Keluhnya pada batas-batas harapan.Lalu ia meringkuk, mendengungkan tangis kecil yang membawanya pada alam mimpi.
***
Malamini tidak seperti biasanya. Ibu guru kita kembali tak nyenyak tidurnya. Entahapa yang ia kerjakan di meja coklat berukir itu. Bukan dengan lembaran bahanajar, bukan itu. Ibu guru kita asik menimang sebuah surat beramplom coklatsambil memegangi pipinya. Sesekali bibirnya merekah, sesekali menciut.
Bibirnyamerekah ketika ia kembali menelusuri pipi yang entah mengapa terasa masih berbekaslumpur dari tangan anak-anak tadi pagi. Bahagia sekali menikmati hari-harinyadengan anak-anak kelebihan tenaga. Tapi bibirnya seketika menciut ketikamatanya terpaku pada surat dari dinas pendidikan yang diterimanya beberapa harilalu. Entah kenapa surat yang seharusnya mengembalikan kenyamanannya di kotakabupaten dan menjauhkannya dari desa terasing ini malah mencerabutkebahagiaan. Menggantinya dengan taman kerinduan yang kian subur.
Ohanak-anak, apa kau sedang mengguna-gunaiku dengan senyuman polos kalian?
***
Ruangkelas dengan plang nama 3B lengang hari ini. Membuat sepenjuru sekolahkebingungan, membuat kelas sebelah menghentikan pelajaran karena mencari-carike mana sumber keributan yang biasa mereka dengar, membuat burung hantu tetapnyenyak karena waktu rehatnya tak terganggu dengan suara tenor pekik anak-anak.Semua terdiam, mendengarkan dengan takjim wanita yang sedang berbicara di mukakelas,
“Anak-anak,hari ini adalah hari terakhir ibu mengajar. Ibu harus pulang…” kalimat itu yangseketika menyekap kegaduhan mereka.
“Tugassudah selesai, dan ibu harus kembali. Ada banyak hal yang harus ibu kerjakan.”Ujarnya lagi. Meluapkan emosi sesak akan pahit perpisahan dengan cinta-cintabarunya di kelas berstempel degil. Membuatnya lupa banyak bahasa yang tak bisadimengerti oleh bocah-bocah dihadapannya. Tapi ia berbicara denagan hati, danmereka mendengarkan dengan hati.
Hariini ia pulang karena panggilan. Sama halnya dengan saat pertama ia berada dikampung ini, juga karena sebuah panggilan. Memang apa yang lebih baik dariseorang pegawai kecuali taat kepada atasan, itulah awalnya ia memberanikan diriuntuk mendatangi kampung ini tanpa protes. Tapi entah kenapa hatinya kini sudahterpaut. Meski sudah dua minggu lalu panggilan untuk kembali itu datang, baruhari ini ia mampu mengutarakan. Ia benar-benar sudah jatuh hati dengan kelas.Ia sudah terlanjur menaruh hatinya untuk berbahasa dengan angka-angka di depanbocah-bocah kelebihan tenaga itu. Utangnya sudah dilunasi. Tidak ada lagialasan untuk tetap tinggal. Ia harus benar-benar pergi.
Darisudut ruangan gadis kecil kita berdiri. Ragu berjalan kedepan membawa sebuahlipatan kertas. Ibu guru kita yang sibuk mengendalikan kelenjar air matanya taksempat untuk memperhatikan. Hingga kaki gadis kita menyeggol meja danmembuatnya sedikit berderit, ibu guru kita mulai terpancing memperhatikan. Iamenatap heran pada gadis kecil kita.
Kinigadis kecil kita sudah berada dihadapan ibu guru, menunduk dalam sembarimenyerahkan lipatan kertasnya. Ibu guru menerima, memandang penuh tanya. Gadikecil kita mengangguk. Baru kemudian ibu guru membuka liptan itu. Oiy, ibu gurukita mengerutkan dahi seketika. Gadis kecil semakin menunduk. Entah lukisan,entah apa ibu guru kita tak mengerti. Abstrak. Ibu guru kita seketikaterhenyak. ‘Ya Tuhan, ini tulisan. Tapi, aku sama sekali tak bisa membacanya,dan bagaimana aku bisa membiarkannya selama ini?’ ibu guru semakin kebingungan,memandang gadis kita yang terus tertunduk.
“Maukahkau membacakannya untuk ibu, Nak?” hati-hati ibu guru berujar. Gadis kita mulaimenengadahkan kepala. Menerima lipatan kertas yang baru ia berikan. Menariknapas dalam, membalik badan menghadap teman-tenamannya yang masih terdiam.
Untuk Ibu Guru Fatimah.
Bu, ibu akan segerapulang ya? Apa ibu tidak ingin tinggal sebentar lagi? Untuk melihat tangankuyang terus terangkat, untuk melihat aku yang berada di pojokan kelas. Takmengapa jika selama ini ibu tidak melihat tanganku. Sebenarnya aku inginbertanya, kapan kita belajar menulis? Kapa ibu akan memeriksa catatanku? Kapanibu akan memukul tanganku seperti yang Bu Nurlaila lakukan dulu jika menemukancatatanku yang tak pernah bisa terbaca. Lalu aku akan meminta bantuan Inuruntuk membuatkanku catatan. Kapan ibu akan melakukannya?
Inur sudah lama pergi kekota, Bu. Tidak ada yang membuatkan aku catatan, tidak ada yang mengajarikumenulis a b c. tidak ada lagi.
Maukah ibu tinggalsebentar lagi untuk mengajariku menulis lalu memeriksa catatanku dan memukultanganku karena catatanku tak pernah bisa terbaca?maukah?
Tapi tak jadi soal jikaibu tidak bersedia, aku akan kembali menemui Bu Nurlaila untuk menerimapukalnya karena kebodohanku. Ibu hati-hati di kota. Mereka pasti merindukanibu. Jenguklah kami sesekali di sini. Atau tinggal saja di sini.
Aku mencintaimu, Bu.Kami mencintaimu.
Selesaikalimat itu berdengung dari bibir gadis kecil kita, sudah habis luruh air mataibu guru sedari tadi. Beringsut cepat mendekap gadis kecil kita. Menangissejadi-jadinya. Gadis kecil kita juga menangis. Seisi kelas terdiam,berkaca-kaca matanya.
“Ibuakan di sini, Nak. Ibu tak akan pulang. Ibu akan melihat mu yang duduk di pojokkelas. Ibu akan melihat tanganmu yang terangkat, dan ibu akan mengajarimumenulis, ibu berjanji….”
Kalimatitulah yang kini benar-benar mematri hatinya dengan kelas peribut ini.Tangannya mengepal keras surat dari kota kabupaten yang ia terima beberapa harilalu, kemudian melepaskannya terjatuh di lantai kelas. Sedang gadis kecil kitasedang membanjiri pipi dengan air mata bahagianya. Ia akan segera menulisdengan baik. Itu janjinya di dalam hati dengan terus meremas erat tubuhku.
****

0 Komentar :

Posting Komentar

Cancel Reply

MENURUT PENILAIAN ANDA BAGAIMANA TAMPILAN BARU WEBSITE FORMADIKSI UR?